ASSALAMU'ALAIKUM Wr Wb
Selamat Datang di Blog Saya... Semoga bisa diambil manfaatnya
Selasa, 09 Maret 2021
Kata Indah (MOTIVASI DIRI)
# efek GalFok antara Ghosting dan Kudeta .. 😃
Aku melihat derita kesedihan di bola matamu. Hujan yang tak kunjung reda. Mawar yang layu menanti gugur.
Aku ingin bertanya, apa arti kebahagiaan bagimu? Adakah kehadiran Sang Kekasih, sungguh bisa jadi batu pijakan untuk meraihnya? Ataukah itu hanya balas dendam kehilangan yang menderamu di masa lalu?
Dunia ini penuh tipu daya
Kamu perlu cermat memilah beban: mana yang harus dipikul, mana yang selayaknya dilepaskan.
Abaikan indah fatamorgana, temukan oase yang sesungguhnya.
Dan berhentilah,
Berhenti meletakkan garis takdirmu di telapak tangan orang lain.
Dengarkan saja bisikanNya ... " Kau memang tak seberuntung orang lain tapi orang lainpun belum tentu sekuat kamu " Sugestikan itu pada titik otak kirimu dan pastikan semua akan baik-baik saja .
••
Buku
"The Understanding Woman"
By. Budi Lathiful. MTsN Salatiga
Simple :
"3 cara hidup bahagia : energi, antusias, dan empati".
❤️❤️❤️
"Bahagia itu mudah. Berpikir dan bertindaklah dengan sederhana".
Diantaranya...
Cukup dengan Selfi dan tertawa...
Murah meriah tapi bahagia
😀😀😀😀😀😀
By. Dwisur
Ketenangan itu ku dapat,
Kedamaian itu ku raih,
Kebahagiaan itu ku miliki,
Saat aku berada di dekatMu,
Ketika diriku merajuk manja padaMu,
Saat diri ini bersimpuh di hadapanMu, Ketika jiwa ini bercengkerama denganMu,
Saat kubersandar dalam kuasaMu,
Ketika air mata ini menetes merindukanMu....
Saat aku berada dalam rengkuhan KasihMu,
Karenanya.....
Aku sangat merindukanMu,
Aku sangat mencintaiMu,
Aku sangat membutuhkanMu...
Aku ingin selalu dalam belaian
Kasih sayangMu...
Bimbing aku...
Raih aku.....
Peluk aku...
Dalam naungan cintaMu..
Jangan biarkan sedetikpun,
Aku jauh dariMu....
Rengkuh aku dalam.kepak sayap
Cinta kasihMu....
Aku mencintaiMu.....
By Dwisur
“Hidup ini bukan hanya mencari yang terbaik, namun lebih kepada menerima kenyataan, dan tetaplah menjadi diri sendiri.”
Dan inilah......
Kenyataannya kalau nggak selfi,
Kurang bahagia. 🙈🙈🙈
Ha.ha.ha.....
By. Dwisur
"Tak ada batasan dalam hidup, kecuali yang kau buat sendiri." - Les Brown
Berusaha selalu cintai diri sendiri,
Karena....
"Mencintai diri sendiri berarti memahami bahwa kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi baik."
Edisi : Motivasi diri
Dalam pelaksanaan PDWK Moderasi Beragama Kemenag Salatiga dari BDK Semarang.
Semangat.
💪💪
By. Dwisur
"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."
Berjuanglah dengan sabar di penjara suciNya... Para ponakan2ku..
Karena...
"Bukan ilmu yang seharusnya mendatangimu, tapi kamu yang seharusnya mendatangi ilmu." - Imam Malik.
Suport dan doa kami untuk kalian..,😍😍🤲🤲
By. Dwisur
Sabtu, 10 Oktober 2020
OSTEOSAPIT Oil.
Cem2an Rumahan, Warisan Nenek Moyang.
Khasiat.
Mengobati Osteoporosis, Syaraf Kejepit, radang sendi, keseleo, keceklik, salah urat dan pegal pegal.
Komposisi :
Melaleuca leucadendra syn. M. leucadendron, Gaultheria, Cymbopogon citratus, Cinnamomum camphora
Rabu, 07 Oktober 2020
AWAL JANJI SUCI
Dalam gambar ini...
ada sesuatu...
yang hanya diriku yang tau.
meski dikau tak begitu suka dengan foto ini..
tapi aku suka...
karena disana ..
terdapat lukisan bahagia...
cerita suka..
ynag tak mampu terungkapkan.
terukir kisah...
penuhi warna kehidupan nyata...
Terima kasih ya Allah...
Atas segala warna ..
tuk hiasi hidup hamba..
Sabtu, 25 Agustus 2018
Beritaku
Sosialisasi Pengukuran Indeks profesionalitas (PIP) Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga.

Salatiga - Urusan Kepegawaian Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Senin (13/08/2018) mengadakan Sosialisasi Pengukuran Indeks Profesionalitas (PIP) Aparatur Sipil Negara (ASN) di Aula
Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Drs. H. Fahrudin, M.Ag memberikan arahan dalam pembukaan kegiatan tersebut bahwa pengukuran PIP ini harus segera terisi maksimal hari Rabu 15 Agustus 2018 sehingga harus segera disosialisasikan dan dilaksanakan oleh seluruh ASN di Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga.
Kegiatan yang dibuka oleh Plt. Kepala Sub Bag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Hj. Retno Woro Widati, MH tersebut dihadiri oleh para kasi, kepala KUA se- kota Salatiga, TU Madrasah dan operator dari masing- masing seksi di Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga.
Hj. Mustadhkiroh, S.Ag, MH selaku Nara sumber dalam kegiatan Sosialisasi tersebut menyampaikan materi yang telah diperoleh dari kegiatan orientasi administrasi dan kinerja kepegawaian (konsinyir kenaikan pangkat (KP) periode oktober 2018) dan pemberian materi pengisian PIP (Pengukuran Indeks Profesionalitas) Aparatur Sipil Negara (ASN) di Hotel Grand Wahid Salatiga Rabu 07 Agustus 2018 sampai dengan tanggal 10 Agustus 2018. (Dwisur/Mnc)
Salatiga - Urusan Kepegawaian Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Senin (13/08/2018) mengadakan Sosialisasi Pengukuran Indeks Profesionalitas (PIP) Aparatur Sipil Negara (ASN) di Aula
Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Drs. H. Fahrudin, M.Ag memberikan arahan dalam pembukaan kegiatan tersebut bahwa pengukuran PIP ini harus segera terisi maksimal hari Rabu 15 Agustus 2018 sehingga harus segera disosialisasikan dan dilaksanakan oleh seluruh ASN di Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga.
Kegiatan yang dibuka oleh Plt. Kepala Sub Bag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Hj. Retno Woro Widati, MH tersebut dihadiri oleh para kasi, kepala KUA se- kota Salatiga, TU Madrasah dan operator dari masing- masing seksi di Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga.
Hj. Mustadhkiroh, S.Ag, MH selaku Nara sumber dalam kegiatan Sosialisasi tersebut menyampaikan materi yang telah diperoleh dari kegiatan orientasi administrasi dan kinerja kepegawaian (konsinyir kenaikan pangkat (KP) periode oktober 2018) dan pemberian materi pengisian PIP (Pengukuran Indeks Profesionalitas) Aparatur Sipil Negara (ASN) di Hotel Grand Wahid Salatiga Rabu 07 Agustus 2018 sampai dengan tanggal 10 Agustus 2018. (Dwisur/Mnc)
Kamis, 23 Agustus 2018
Rasa Haru dan Khidmad Melepas Calon Jemaah Haji Kloter Terakhir Kota Salatiga TH. 1439 H / 2018 M
Salatiga - Seksi Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga telah melaksanakan kegiatan pelepasan calon Jemaah Haji Kota Salatiga selasa (14/08/2018) ke di halaman apel kantor Kementerian Agama kota Salatiga pukul 10.30 wib.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Drs. H. Fahrudin, M.Ag menyampaikan sambutan sekaligus doa pelepasan calon jemaah haji dengan penuh rasa haru dan khidmad. Dalam sambutannya beliau mendoakan semoga dalam pelaksanaan ibadah haji dapat dilaksanakan dengan lancar, diberi kesehatan dan menjadi haji yang mabrur dan mabruroh.
Menurut kepala Seksi Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Hj. Retno Woro Widati, MH, bapak muh tulchah dan ibu wasiah adalah jamaah haji kota Salatiga TH. 1439 H / 2018 M yang diberangkatkan kloter terakhir yaitu kloter 95 dari Embarkasi Solo.
Acara pelepasan diakhiri dengan kumandang adzan oleh ASN dari seksi Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Qomarudin Syafaat, SHI. (Ulfah/Mnc/Dwisur)
Kamis, 26 April 2018
Beritaku.... di website
Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-IX Majelis Ulama Islam (MUI) Salatiga di Hotel Grand Wahid Salatiga.

MUI Kota Salatiga mengadakan Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-IX Majelis Ulama Islam (MUI) Sabtu (21/04) di Hotel Grand Wahid Salatiga
Halaqoh bersama yang dihadiri Ketua MUI Pusat bp. KH. Dr. Amin Makruf, Ketua MUI Jateng DR. KH. Ahmad Darodji, Ketua MUI Kota Salatiga DR. KH. Saefudin Zuhri, Walikota Yulianto dan Wakil Walikota H. Muhamad Haris dan para Forkompinda Salatiga
Tak lupa Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga H. Fahrudin turut hadir dalam kegiatan Musyawarah Daerah (MUSDA) Majelis Ulama Islam (MUI) Salatiga yang ke-IX tersebut. (Dwisur/Miftah/Mnc).
Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-IX Majelis Ulama Islam (MUI) Salatiga di Hotel Grand Wahid Salatiga.
MUI Kota Salatiga mengadakan Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-IX Majelis Ulama Islam (MUI) Sabtu (21/04) di Hotel Grand Wahid Salatiga
Halaqoh bersama yang dihadiri Ketua MUI Pusat bp. KH. Dr. Amin Makruf, Ketua MUI Jateng DR. KH. Ahmad Darodji, Ketua MUI Kota Salatiga DR. KH. Saefudin Zuhri, Walikota Yulianto dan Wakil Walikota H. Muhamad Haris dan para Forkompinda Salatiga
Tak lupa Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga H. Fahrudin turut hadir dalam kegiatan Musyawarah Daerah (MUSDA) Majelis Ulama Islam (MUI) Salatiga yang ke-IX tersebut. (Dwisur/Miftah/Mnc).
Ngaji Kebangsaan Mengasah Jati Diri Indonesia

Kepala Kantor Kementerian Agama kota Salatiga H. Fahrudin turut hadir dalam Ngaji Kebangsaan bersama Menteri Agama di IAIN Walisongo Semarang Jumat (20/04)
Kegiatan Ngaji Kebangsaan bersama yang dimaksudkan untuk Mengasah Jati Diri Indonesia, dilaksanakan Bersama dengan Menteri Agama RI. H. Lukman Hakim.
Adapun Susunan Acara dalam kegiatan ngaji bersama tersebut adalah:
1.Menyanyikan Lagu Indonesia
2.Ayat2 Suci Al Quran
3.Doa
4.Laporan panitia(Rektor)
5.Ngaji Bareng Menag
6.Lain Lain
7.Penutup
Dalam sambutannya, Menteri Agama RI menyampaikan bahwa :
1.NKRI dg penduduk yg besar menempatkn agama di tempat yg mulia. Yg tdk melepaskan agama dlm kehidupan sosial.
2.Indonesia bukan negara agama dan bukan negara sekuler. Indonesia senantiasa meletakan agama pd posisi di tengah tdk kekanan dan tdk kekiri (Moderasi Agama).
3.Kearifan lokal yg ada di Indonesia selalu merujuk kpd agama. Utk itu kearifan lokal harus selalu seiring dengan agama.
4.NKRI dipandang orang luar negeri di sebut sbg negara relegius yg ditandai pada setiap acara resmi senantiasa menyertakan Doa di dalamnya.
5.NKRI memiliki ormas-ormas keagamaan yg banyak dan Hari Besar Agama di akui oleh Negara scr resmi. Ini juga mebuktikan bahwa Negara Indonesia adalah negara yg relegius.
6.Pejabat yg ada di Indonesia selalu mengambil sumpah jabatan dg menyebut nama Tuhan, apapun itu agamanya.
7.Indonesia memiliki pengadilan negeri pengadilan militer pengadilan Agama.
Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh Kepala Kementerian Agama di Jawa Tengah, para dosen, perwakilan organisasi mahasiswa, perwakilan ormas dan pejabat terkait tersebut, diakhiri dengan ngaji bareng Menteri Agama RI dan doa bersama untuk NKRI Tercinta. (Dwisur/Mnc)
Kepala Kantor Kementerian Agama kota Salatiga H. Fahrudin turut hadir dalam Ngaji Kebangsaan bersama Menteri Agama di IAIN Walisongo Semarang Jumat (20/04)
Kegiatan Ngaji Kebangsaan bersama yang dimaksudkan untuk Mengasah Jati Diri Indonesia, dilaksanakan Bersama dengan Menteri Agama RI. H. Lukman Hakim.
Adapun Susunan Acara dalam kegiatan ngaji bersama tersebut adalah:
1.Menyanyikan Lagu Indonesia
2.Ayat2 Suci Al Quran
3.Doa
4.Laporan panitia(Rektor)
5.Ngaji Bareng Menag
6.Lain Lain
7.Penutup
Dalam sambutannya, Menteri Agama RI menyampaikan bahwa :
1.NKRI dg penduduk yg besar menempatkn agama di tempat yg mulia. Yg tdk melepaskan agama dlm kehidupan sosial.
2.Indonesia bukan negara agama dan bukan negara sekuler. Indonesia senantiasa meletakan agama pd posisi di tengah tdk kekanan dan tdk kekiri (Moderasi Agama).
3.Kearifan lokal yg ada di Indonesia selalu merujuk kpd agama. Utk itu kearifan lokal harus selalu seiring dengan agama.
4.NKRI dipandang orang luar negeri di sebut sbg negara relegius yg ditandai pada setiap acara resmi senantiasa menyertakan Doa di dalamnya.
5.NKRI memiliki ormas-ormas keagamaan yg banyak dan Hari Besar Agama di akui oleh Negara scr resmi. Ini juga mebuktikan bahwa Negara Indonesia adalah negara yg relegius.
6.Pejabat yg ada di Indonesia selalu mengambil sumpah jabatan dg menyebut nama Tuhan, apapun itu agamanya.
7.Indonesia memiliki pengadilan negeri pengadilan militer pengadilan Agama.
Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh Kepala Kementerian Agama di Jawa Tengah, para dosen, perwakilan organisasi mahasiswa, perwakilan ormas dan pejabat terkait tersebut, diakhiri dengan ngaji bareng Menteri Agama RI dan doa bersama untuk NKRI Tercinta. (Dwisur/Mnc)
Kamis, 18 Desember 2014
AL-HIKAM .. Hikmah 90-100
Hikmah 91
Posted in 10. Tak Terhimpit Tatkala Sempit
“Allah melapangkan keadaanmu agar engkau tidak selalu dalam kesempitan, dan Allah menyempitkan keadaanmu agar engkau tidak terlarut dalam kelapangan, serta Dia melepaskanmu dari keduanya agar engkau terbebas dari sesuatu selain-Nya.”
Syekh Fadhlala ra. memberikan ulasannya sbb:
Diri selalu ingin lapang dan senang. Sementara itu pengalaman-pengalaman lapang dan sempit terus berlangsung. Salik yang taat mengalami pengharapan dalam keadaan lapang dan kecemasan dalam keadaan sempit, serta mencari makna hakiki di balik cara-cara ini.
Orang yang mengalami ma’rifat (pencerahan batin) melihat Allah SWT sebagai sebab dari semua situasi dan kondisi. Dia-lah Pengumpul dan Pemilik segala sesuatu. Orang-orang yang tercerahkan tidak memperdulikan kondisi lapang atau sempit, karena kondisi ini selalu berubah-ubah, sedangkan batin mereka tidak.
Sedang Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah sbb:
Allah merubah-ubah kondisi kita dari sedih/sempit dan gembira/lapang, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya kita mengerti bahwa kita tidak bebas dari Hukum Ketentuan-Nya, agar kita selalu berdiri di atas landasan Laa haula wa laa quwwata ill billahi (tiada daya untuk mengelakkan sesuatu, dan tiada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala)
Firman Allah:
“Agar kamu tidak (terlalu) bersedih terhadap apa yang terlepas dari tanganmu, dan tidak (terlalu) gembira atas apa yang diberikan kepadamu..”
Nah Sahabat…
Sekian sejarah keteladanan hidup dari para hamba Allah yang telah ma’rifat memberikan pelajaran kepada kita, bahwa siapa yang meyakini dan mentawakalkan urusannya kepada Allah, niscaya Dia Ta’ala akan menjamin kehidupan kita.
Laa haula wa laa quwwata illa billahi al-‘Aliyy al-‘Adhim. Wallahu a’lam bishawwab.[]
Posted in 10. Tak Terhimpit Tatkala Sempit
“Allah melapangkan keadaanmu agar engkau tidak selalu dalam kesempitan, dan Allah menyempitkan keadaanmu agar engkau tidak terlarut dalam kelapangan, serta Dia melepaskanmu dari keduanya agar engkau terbebas dari sesuatu selain-Nya.”
Syekh Fadhlala ra. memberikan ulasannya sbb:
Diri selalu ingin lapang dan senang. Sementara itu pengalaman-pengalaman lapang dan sempit terus berlangsung. Salik yang taat mengalami pengharapan dalam keadaan lapang dan kecemasan dalam keadaan sempit, serta mencari makna hakiki di balik cara-cara ini.
Orang yang mengalami ma’rifat (pencerahan batin) melihat Allah SWT sebagai sebab dari semua situasi dan kondisi. Dia-lah Pengumpul dan Pemilik segala sesuatu. Orang-orang yang tercerahkan tidak memperdulikan kondisi lapang atau sempit, karena kondisi ini selalu berubah-ubah, sedangkan batin mereka tidak.
Sedang Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah sbb:
Allah merubah-ubah kondisi kita dari sedih/sempit dan gembira/lapang, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya kita mengerti bahwa kita tidak bebas dari Hukum Ketentuan-Nya, agar kita selalu berdiri di atas landasan Laa haula wa laa quwwata ill billahi (tiada daya untuk mengelakkan sesuatu, dan tiada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala)
Firman Allah:
“Agar kamu tidak (terlalu) bersedih terhadap apa yang terlepas dari tanganmu, dan tidak (terlalu) gembira atas apa yang diberikan kepadamu..”
Nah Sahabat…
Sekian sejarah keteladanan hidup dari para hamba Allah yang telah ma’rifat memberikan pelajaran kepada kita, bahwa siapa yang meyakini dan mentawakalkan urusannya kepada Allah, niscaya Dia Ta’ala akan menjamin kehidupan kita.
Laa haula wa laa quwwata illa billahi al-‘Aliyy al-‘Adhim. Wallahu a’lam bishawwab.[]
Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy
AL-HIKAM
Setelah kita mulai belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya
setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari
seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra. marilah kita
melanjutkannya ke hikmah berikutnya.
Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah, Ustadz Salim Bahreisy dan Syaikh Fadhlala Haeri, mari kita awali kajian dan renungan kita.
Betapa ademnya hati jika kita mengerti dan memahami siapa kita, dengan mendalami dan membaca terjemahan Al-Hikam syekh ibnu aththaillah ( Hehhehee.... karena aku tidak faham bahasa Arab, sehingga terjemahan yang bisa aku pelajari) ..... mudah2an tahap demi tahap aku bisa memasukkan dan meng-uploud
dalam dwisur blog ini, terutama sebagai belajar sendiri, syukur2 bisa bermanfaat bagi orang lain.
Aku mengambil dan mengopy dan ingin mensyiarkan pengajian Al-Hikam ini, sebagai bentuk diriku melaksanakan kewajiban dakwah, namun untuk lebih jelas monggo di buka dalam buku Al-Hikam sendiri.
Hikmah no 4
“Istirahatkan dirimu dari at-tadbir(kerisauan mengatur kebutuhan), sebab apa yang sudah dijaminkan/diselesaikan oleh selainmu, tidak perlu engkau sibuk memikirkannya.”
Ustadz Salim Bahreisy menambahan dalam buku terjemahannya di hal 14:
Sebagai seorang hamba, kita wajib dan harus melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah/balasan ada di tangan majikan, maka tidak usah merisaukan pikiran maupun perasaan untuk mengatur (tadbir), karena mengkhawatirkan apa yang telah dijaminkan itu tidak tiba, atau terlambat. Sebab ragu terhadap jaminan Allah adalah tanda kurangnya iman kita.
_____________________________________________________________________________________
Sahabats,
Marilah kita menyadari bahwa kalimat hikmah tersebut keluar dari seorang yang pengenalannya (ma’rifat) kepada Allah beserta Af’al, Shifat dan Asma-Nya telah mencapai maqam/tingkat yang jauh di atas maqam kita, yaitu kesempurnaan atas seizin Allah.
Beliau yang telah mengenal bahwa Allah adalah Rabb yang sempurna Pemeliharaan serta Pemberian Rezeki-Nya kepada makhluk-makhluknya, menasihatkan kepada kita yang seringkali kelalaian kita menyebabkan kurang yakinnya kita atas Pemeliharaan serta Penjaminan rezeki kita oleh Allah.
Hendaknya kesibukan kita lebih berfokus pada penyempurnaan penunaian kewajiban-kewajiban kita kepada Allah, sebab Dia, Rabb yang sekaligus Ar-Raazak pasti akan membalas penunaian kewajiban tersebut dengan anugrah-Nya yang akan mencukupi kebutuhan kita.
Di antara kewajiban kita yang telah Allah firmankan dalam Al-Quran antara lain,
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. ThaaHa [20]:14)
“…Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada Nya”, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad [13]:28)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A’raaf [7]:172)
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”.Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]:161-162)
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45-46)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang lubb-nya aktif (ulil albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 190-191)
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. ThaaHaa [20]:132)
Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘Aliyyul ‘Adhim.
Wa Allahu A’lam bi shawwab. []
Hikmah no 5
“Kesungguh-sungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu serta keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu.”
Tambahan keterangan Ustadz Salim Bahreisy (penerjemah) di halaman 15-16:
Firman Allah di QS.Al-Ankabut[29]:60: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS. ThaaHaa[20]:132)
Kerjakan apa yang menjadi kewajiban kita terhadap Kami (Allah), dan Kami melengkapi bagi kita bagian Kami. Di sini ada 2 hal, satu, yang dijamin Allah, maka hendaknya kita jangan menuduh (su’udhon) terhadap Allah. Kedua, yang dituntut Allah maka jangan kita abaikan.
Dalam sebuah hadits yang kurang lebih artinya demikian:
“Mengapakah orang-orang yang mengagungkan orang yang kaya, pemboros dan menghina ahli-ahli ibadah, serta yang selalu mengikuti tuntunan Al-Quran hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka sedangkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan hawanafsunya mereka tinggalkan, padahal yang demikian itu berarti mempercayai sebagian Kitab Allah, dan mengabaikan (kufur) terhadap sebagian isi Kitab-Nya. Mereka berusaha untuk mencapai apa-apa yang dapat dicapai tanpa usaha, yaitu bagian yang pasti tiba dan ajal yang sudah ditentukan, dan rezeki yang menjadi bagiannya, tetapi tidak berusaha untuk mencapai apa yang tidak dicapai kecuali dengan usahanya, yaitu pahala-pahala yang besar dan amal-amal ibadah dan ‘dagangan’ yang tidak akan rusak.”
Ibrahim Al-Khawwash berkata: “Jangan memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang diamanahkan kepadamu.”
Oleh sebab itu, maka siapa yang berusaha untuk mencapai yang sudah dijamin, dan mengabaikan apa yang ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.
______________________________________________________________________
Sahabats,
Kewajiban yang hendaknya kita ikhtiarkan dengan perjuangan sekuat tenaga adalah secara singkat mencari keridhoan Allah SWT dalam berbagai kondisi kita. Dan jika dirinci lebih lanjut a.l.:
- Dzikrullah baik dalam duduk, berdiri, berbaring, dsb (QS. 3:191)
- Khusyu’ dalam shalat (QS. 2:45-46)
- Shaum lahir maupun batin (QS. 2:183)
- Menyempurnakan keberserah-dirian kepada Allah SWT (QS. 2:208)
- Takwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqatu qattihi; QS. 3:102)
- Menerima dengan ridho dan menjaga rezeki harta yang Allah anugrahkan
- Dsb.
Sesungguhnya rezeki harta yang sudah, sedang maupun akan kita terima, telah Allah tetapkan (qodho) di Lauh Al-Mahfudz. Tentu saja, keyakinan kita terhadap hal tersebut serta penyikapan kita sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan kita masing-masing. Itulah yang dimaksudkan oleh Syaikh Ibnu Aththoillah ra. sebagai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu.
Sedangkan istiqamah dzikrullah, shalat yang khusyu’, keberserah-dirian yang total kepada Allah, menerima apa-apa yang Allah anugrahkan kepada kita tidaklah Allah berikan jika kita tidak berjuang dengan keras, itulah yang dimaksud oleh beliau sebagai kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu.
Demikianlah, jika kita mengabaikan yang menjadi kewajiban karena energi dan kesempatan kita sudah habis dipergunakan mencari apa-apa yang sudah dijamin oleh Allah SWT, maka kita disebut buta mata hati.
Sahabats,
Marilah kita merenungi hikmah di atas dengan qalbu yang semoga Allah bebaskan dari penguasaan hawanafsu, serta akal nalar yang mengikuti hukum-hukumnya dengan optimal.
Laa haula wa laa quwwata illa billahil Aliyyul Adhim.
Wa Allahu A’lam bishawwab.[]
Hikmah 9
“Beraneka warna jenis amal, itu karena bermacam-macamnya anugrah(waarid) Allah kepada hamba-hamba-Nya.”

Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah dalam terjemahnya halaman 21 sbb:
Karena itu tiap orang shalih yang menuju ke suatu maqam (tingkat) harus mengerti dalam ibadah yang mana ia merasakan nikmat ibadah tersebut, karena di situlah ‘terbuka’ qalbunya. Apakah dalam shalat, atau shaum, atau ibadah yang lainnya.
Syaikh Fadhalla Hairi ra. dalam terjemahnya halaman 9 mengomentari:
“Suatu perbuatan yang timbul dari hati yang suci dan merdeka tidak sama dengan perbuatan yang termotivasi oleh keinginan-keinginan, ketakutan-ketakutan, dan ambisi-ambisi pribadi. Hasil dari perbuatan juga berbeda-beda sesuai dengan niat dan keadaan hati kita. Perbuatan adalah gerakan lahir dari apa yang ada dalam hati dan tergantung pada keadaannya. Jadi, seluruh kondisi dan pengalaman eksistensial merefleksikan keadaan hati yang sebenarnya.”
===========================================================
Sahabat, hanya dengan hati yang jernih dari prasangka buruk serta pikiran yang tidak menghakimi, biasanya hidayah serta pemahaman yang optimal itu Allah anugrahkan kepada kita.
Semoga rahmat dan barakah Allah senantiasa tercurah bagi kita. Amiin.
Laa haula wa laa quwwata illa bilahil Aliyyul Adhim.
Wallahu A’lam bishshawwab.[]
Hikmah 10
“Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh-nya adalah terdapatnya rahasia ikhlas (sirr al-ikhlas) dalam perbuatan itu.”
Ustadz Salim Bahreisy ra. dalam terjemahnya memberikan syarah sbb:
Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya (maqam). Seorang abrar, keikhlasannya telah bersih dari riya’, baik riya’ yang jelas maupuan yang samar. Tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas. Hal ini merujuk pada ayat “Iyyaka na’budu.hanya kepada-Mu kami mengabdi/beribadah.” (QS. Al-Fatihah[1]:5), dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam pengabdianku ini kepada sesuatu yang lain.
Adapun keikhlasan hamba-hamba Allah pada maqam Muqarrabin adalah menerapkan pengertian Laa haula wa laa quwwata illa billaahi (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah) tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apa pun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada kekuatan sendiri, semua kekuatan yang kita miliki hanya dari Allah. Kalangan Muqarrabin ini meyakini bahwa semua amal mereka semata-mata hanya anugrah dari Allah, sebab Allah-lah yang memberi hidayah dan taufiq(pertolongan untuk takwa). Hal ini merujuk pada ayat, “Iyyaka nasta’in.. Hanya kepada-Mu kami minta pertolongan..” (QS. Al-Fatihah[1]:5). Hanya kepada-Mu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya.
Amal kalangan abrar disebut amal lillahi, beramal karena Allah. Amal lillahi menghasilkan memperhatikan hukum syariat lahir. Sedangkan amal kalangan Muqarrabin disebut Amal billahi, beramal dengan bantuan karunia anugrah Allah. Amal billahi menembus ke dalam syariat bathin hingga ke rasa qalbu (dzauq).
Seorang guru berkata, “Perbaikilah amal perbuatan kita dengan keikhlasan, dan perbaikilah keikhlasan kita dengan merasa amal itu tidak berasal dari kekuatan kita sendiri, karena semua itu terjadi semata-mata karena bantuan pertolongan dan rahmat Allah SWT.
Syaikh Fadhalla Hairi, mensyarah sbb:
Amal perbuatan adalah perwujudan dari niat dan keinginan kita. Pengalaman-pengalaman lahiriah adalah cerminan dari realitas dan kondisi bathin kita. Usaha-usaha kita akan gagal apabila tidak sesuai dengan tujuan, sehingga kita menjadi bingung. Puncak keikhlasan adalah kesadaran bahwa kita tidak mempunyai kekuatan dan kehendak-bebas (free will). Bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah, memahami amr(perintah)-Nya, dan hanya mengharapkan hasil terbaik yang tercelupi Nur-Nya.
______________________________________________________________________
Kadar keikhlasan kita juga ditentukan oleh tingkat kesucian qalbu serta totalitas diri kita. Dan kesucian qalbu dan diri kita adalah terbebasnya kita dari penyakit-penyakit bathin seperti kesombongan, iri dengki, riya’, terlena terhadap kenikmatan dunia sehingga lalai dzikrullah, dsb. Nah, marilah kita senantiasa meningkatkan terapi kita untuk mensucikan diri kita agar kualitas keikhlasan kita meningkat, dan semoga dengan pertolongan dan rahmat Allah bisa mencapai keikhlasan yang cerminannya berwujud Amal Lillahi hingga akhirnya Amal Billahi, insya Allah.[]
Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy
Setelah kita mulai belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya
setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari
seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra. marilah kita
melanjutkannya ke hikmah berikutnya.
Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah, Ustadz Salim Bahreisy dan Syaikh Fadhlala Haeri, mari kita awali kajian dan renungan kita.
Betapa ademnya hati jika kita mengerti dan memahami siapa kita, dengan mendalami dan membaca terjemahan Al-Hikam syekh ibnu aththaillah ( Hehhehee.... karena aku tidak faham bahasa Arab, sehingga terjemahan yang bisa aku pelajari) ..... mudah2an tahap demi tahap aku bisa memasukkan dan meng-uploud
dalam dwisur blog ini, terutama sebagai belajar sendiri, syukur2 bisa bermanfaat bagi orang lain.
Aku mengambil dan mengopy dan ingin mensyiarkan pengajian Al-Hikam ini, sebagai bentuk diriku melaksanakan kewajiban dakwah, namun untuk lebih jelas monggo di buka dalam buku Al-Hikam sendiri.
Hikmah no 4
“Istirahatkan dirimu dari at-tadbir(kerisauan mengatur kebutuhan), sebab apa yang sudah dijaminkan/diselesaikan oleh selainmu, tidak perlu engkau sibuk memikirkannya.”
Ustadz Salim Bahreisy menambahan dalam buku terjemahannya di hal 14:
Sebagai seorang hamba, kita wajib dan harus melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah/balasan ada di tangan majikan, maka tidak usah merisaukan pikiran maupun perasaan untuk mengatur (tadbir), karena mengkhawatirkan apa yang telah dijaminkan itu tidak tiba, atau terlambat. Sebab ragu terhadap jaminan Allah adalah tanda kurangnya iman kita.
_____________________________________________________________________________________
Sahabats,
Marilah kita menyadari bahwa kalimat hikmah tersebut keluar dari seorang yang pengenalannya (ma’rifat) kepada Allah beserta Af’al, Shifat dan Asma-Nya telah mencapai maqam/tingkat yang jauh di atas maqam kita, yaitu kesempurnaan atas seizin Allah.
Beliau yang telah mengenal bahwa Allah adalah Rabb yang sempurna Pemeliharaan serta Pemberian Rezeki-Nya kepada makhluk-makhluknya, menasihatkan kepada kita yang seringkali kelalaian kita menyebabkan kurang yakinnya kita atas Pemeliharaan serta Penjaminan rezeki kita oleh Allah.
Hendaknya kesibukan kita lebih berfokus pada penyempurnaan penunaian kewajiban-kewajiban kita kepada Allah, sebab Dia, Rabb yang sekaligus Ar-Raazak pasti akan membalas penunaian kewajiban tersebut dengan anugrah-Nya yang akan mencukupi kebutuhan kita.
Di antara kewajiban kita yang telah Allah firmankan dalam Al-Quran antara lain,
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. ThaaHa [20]:14)
“…Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada Nya”, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad [13]:28)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A’raaf [7]:172)
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”.Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]:161-162)
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45-46)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang lubb-nya aktif (ulil albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 190-191)
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. ThaaHaa [20]:132)
Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘Aliyyul ‘Adhim.
Wa Allahu A’lam bi shawwab. []
Hikmah no 5
“Kesungguh-sungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu serta keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu.”
Tambahan keterangan Ustadz Salim Bahreisy (penerjemah) di halaman 15-16:
Firman Allah di QS.Al-Ankabut[29]:60: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS. ThaaHaa[20]:132)
Kerjakan apa yang menjadi kewajiban kita terhadap Kami (Allah), dan Kami melengkapi bagi kita bagian Kami. Di sini ada 2 hal, satu, yang dijamin Allah, maka hendaknya kita jangan menuduh (su’udhon) terhadap Allah. Kedua, yang dituntut Allah maka jangan kita abaikan.
Dalam sebuah hadits yang kurang lebih artinya demikian:
“Mengapakah orang-orang yang mengagungkan orang yang kaya, pemboros dan menghina ahli-ahli ibadah, serta yang selalu mengikuti tuntunan Al-Quran hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka sedangkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan hawanafsunya mereka tinggalkan, padahal yang demikian itu berarti mempercayai sebagian Kitab Allah, dan mengabaikan (kufur) terhadap sebagian isi Kitab-Nya. Mereka berusaha untuk mencapai apa-apa yang dapat dicapai tanpa usaha, yaitu bagian yang pasti tiba dan ajal yang sudah ditentukan, dan rezeki yang menjadi bagiannya, tetapi tidak berusaha untuk mencapai apa yang tidak dicapai kecuali dengan usahanya, yaitu pahala-pahala yang besar dan amal-amal ibadah dan ‘dagangan’ yang tidak akan rusak.”
Ibrahim Al-Khawwash berkata: “Jangan memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang diamanahkan kepadamu.”
Oleh sebab itu, maka siapa yang berusaha untuk mencapai yang sudah dijamin, dan mengabaikan apa yang ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.
______________________________________________________________________
Sahabats,
Kewajiban yang hendaknya kita ikhtiarkan dengan perjuangan sekuat tenaga adalah secara singkat mencari keridhoan Allah SWT dalam berbagai kondisi kita. Dan jika dirinci lebih lanjut a.l.:
- Dzikrullah baik dalam duduk, berdiri, berbaring, dsb (QS. 3:191)
- Khusyu’ dalam shalat (QS. 2:45-46)
- Shaum lahir maupun batin (QS. 2:183)
- Menyempurnakan keberserah-dirian kepada Allah SWT (QS. 2:208)
- Takwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqatu qattihi; QS. 3:102)
- Menerima dengan ridho dan menjaga rezeki harta yang Allah anugrahkan
- Dsb.
Sesungguhnya rezeki harta yang sudah, sedang maupun akan kita terima, telah Allah tetapkan (qodho) di Lauh Al-Mahfudz. Tentu saja, keyakinan kita terhadap hal tersebut serta penyikapan kita sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan kita masing-masing. Itulah yang dimaksudkan oleh Syaikh Ibnu Aththoillah ra. sebagai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu.
Sedangkan istiqamah dzikrullah, shalat yang khusyu’, keberserah-dirian yang total kepada Allah, menerima apa-apa yang Allah anugrahkan kepada kita tidaklah Allah berikan jika kita tidak berjuang dengan keras, itulah yang dimaksud oleh beliau sebagai kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu.
Demikianlah, jika kita mengabaikan yang menjadi kewajiban karena energi dan kesempatan kita sudah habis dipergunakan mencari apa-apa yang sudah dijamin oleh Allah SWT, maka kita disebut buta mata hati.
Sahabats,
Marilah kita merenungi hikmah di atas dengan qalbu yang semoga Allah bebaskan dari penguasaan hawanafsu, serta akal nalar yang mengikuti hukum-hukumnya dengan optimal.
Laa haula wa laa quwwata illa billahil Aliyyul Adhim.
Wa Allahu A’lam bishawwab.[]
Hikmah 9
“Beraneka warna jenis amal, itu karena bermacam-macamnya anugrah(waarid) Allah kepada hamba-hamba-Nya.”

Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah dalam terjemahnya halaman 21 sbb:
Karena itu tiap orang shalih yang menuju ke suatu maqam (tingkat) harus mengerti dalam ibadah yang mana ia merasakan nikmat ibadah tersebut, karena di situlah ‘terbuka’ qalbunya. Apakah dalam shalat, atau shaum, atau ibadah yang lainnya.
Syaikh Fadhalla Hairi ra. dalam terjemahnya halaman 9 mengomentari:
“Suatu perbuatan yang timbul dari hati yang suci dan merdeka tidak sama dengan perbuatan yang termotivasi oleh keinginan-keinginan, ketakutan-ketakutan, dan ambisi-ambisi pribadi. Hasil dari perbuatan juga berbeda-beda sesuai dengan niat dan keadaan hati kita. Perbuatan adalah gerakan lahir dari apa yang ada dalam hati dan tergantung pada keadaannya. Jadi, seluruh kondisi dan pengalaman eksistensial merefleksikan keadaan hati yang sebenarnya.”
===========================================================
Sahabat, hanya dengan hati yang jernih dari prasangka buruk serta pikiran yang tidak menghakimi, biasanya hidayah serta pemahaman yang optimal itu Allah anugrahkan kepada kita.
Semoga rahmat dan barakah Allah senantiasa tercurah bagi kita. Amiin.
Laa haula wa laa quwwata illa bilahil Aliyyul Adhim.
Wallahu A’lam bishshawwab.[]
Hikmah 10
“Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh-nya adalah terdapatnya rahasia ikhlas (sirr al-ikhlas) dalam perbuatan itu.”
Ustadz Salim Bahreisy ra. dalam terjemahnya memberikan syarah sbb:
Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya (maqam). Seorang abrar, keikhlasannya telah bersih dari riya’, baik riya’ yang jelas maupuan yang samar. Tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas. Hal ini merujuk pada ayat “Iyyaka na’budu.hanya kepada-Mu kami mengabdi/beribadah.” (QS. Al-Fatihah[1]:5), dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam pengabdianku ini kepada sesuatu yang lain.
Adapun keikhlasan hamba-hamba Allah pada maqam Muqarrabin adalah menerapkan pengertian Laa haula wa laa quwwata illa billaahi (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah) tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apa pun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada kekuatan sendiri, semua kekuatan yang kita miliki hanya dari Allah. Kalangan Muqarrabin ini meyakini bahwa semua amal mereka semata-mata hanya anugrah dari Allah, sebab Allah-lah yang memberi hidayah dan taufiq(pertolongan untuk takwa). Hal ini merujuk pada ayat, “Iyyaka nasta’in.. Hanya kepada-Mu kami minta pertolongan..” (QS. Al-Fatihah[1]:5). Hanya kepada-Mu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya.
Amal kalangan abrar disebut amal lillahi, beramal karena Allah. Amal lillahi menghasilkan memperhatikan hukum syariat lahir. Sedangkan amal kalangan Muqarrabin disebut Amal billahi, beramal dengan bantuan karunia anugrah Allah. Amal billahi menembus ke dalam syariat bathin hingga ke rasa qalbu (dzauq).
Seorang guru berkata, “Perbaikilah amal perbuatan kita dengan keikhlasan, dan perbaikilah keikhlasan kita dengan merasa amal itu tidak berasal dari kekuatan kita sendiri, karena semua itu terjadi semata-mata karena bantuan pertolongan dan rahmat Allah SWT.
Syaikh Fadhalla Hairi, mensyarah sbb:Amal perbuatan adalah perwujudan dari niat dan keinginan kita. Pengalaman-pengalaman lahiriah adalah cerminan dari realitas dan kondisi bathin kita. Usaha-usaha kita akan gagal apabila tidak sesuai dengan tujuan, sehingga kita menjadi bingung. Puncak keikhlasan adalah kesadaran bahwa kita tidak mempunyai kekuatan dan kehendak-bebas (free will). Bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah, memahami amr(perintah)-Nya, dan hanya mengharapkan hasil terbaik yang tercelupi Nur-Nya.
______________________________________________________________________
Kadar keikhlasan kita juga ditentukan oleh tingkat kesucian qalbu serta totalitas diri kita. Dan kesucian qalbu dan diri kita adalah terbebasnya kita dari penyakit-penyakit bathin seperti kesombongan, iri dengki, riya’, terlena terhadap kenikmatan dunia sehingga lalai dzikrullah, dsb. Nah, marilah kita senantiasa meningkatkan terapi kita untuk mensucikan diri kita agar kualitas keikhlasan kita meningkat, dan semoga dengan pertolongan dan rahmat Allah bisa mencapai keikhlasan yang cerminannya berwujud Amal Lillahi hingga akhirnya Amal Billahi, insya Allah.[]
Hikmah 11
“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”
Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah:
Tiada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seseorang yang sedang beramal, daripada menginginkan kedudukan dan kemashuran di tengah-tengah masyarakat. Hal ini termasuk dari tipu daya hawa nafsu.
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa berendah-hati maka Allah akan memuliakannya, dan barangsiapa sombong, Allah akan menghinakannya.”
Ibrahim bin Adham ra berkata:
“Tidak benar-benar menuju ke Allah siapa yang beramal untuk kemashuran dirinya.”
Ayyub As-Sakhtiyani ra berkata:
“Demi Allah, tiada seorang hamba yang bersungguh-sungguh ikhlas pada Allah, melainkan ia merasa senang jika tidak mengetahui kedudukannya.”
Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal ra, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya riya’ meski sedikit, termasuk syirik. Dan siapa yang memusuhi seorang waliyullah, berarti telah berperang terhadap Allah. Dan Allah menyayangi hamba-Nya yang bertakwa namun tidak terkenal, yang bila tidak ada tidak dicari, bila ada tidak dipanggil serta tidak dikenal. Hati mereka laksana pelita hidayah(petunjuk), mereka terhindar dari segala kegelapan kesukaran.
Abu Hurairah ra berkata, Ketika kami di majelis Rasulullah saw tiba-tiba beliau saw bersabda:
“Besuk pagi akan ada seorang ahli sorga yang shalat bersama kalian. Abu Hurairah berkata, Aku berharap semoga akulah orang yang ditunjuk oleh Rasulullah itu. Maka pagi-pagi aku shalat di belakang Rasulullah saw dan tetap tinggal di majelis setelah orang-orang pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba hitam berkain compang-camping datang dan berjabat tangan pada Rasulullah saw sambil berkata: Ya Nabiyallah, doakan semoga aku mati syahid. Maka Rasulullah saw berdoa, sementara kami mencium wangi kesturi dari tubuhnya. Kemudian (setelah orang itu pergi) aku (Abu Hurairah ra) bertanya: Apakah orang itu Ya Rasulullah? Jawab Nabi: Ya benar. Ia seorang hamba dari bani fulan. Abu Hurairah bertanya lagi: Mengapa tidak kau beli dan kemudian kau merdekakan ya Nabiyallah? Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, bila Allah hendak menjadikan dia seorang raja di sorga. Hai Abu Hurairah, sesungguhnya di sorga itu ada raja dan orang-orang terkemuka. Dan hamba sahaya ini salah seorang raja dan terkemuka. Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah mengasihi kepada makhluk-Nya yang suci hati, yang menyembunyikan diri dari masyarakatnya, yang bersih, yang rambutnya terurai (tidak tersisir rapi), yang perutnya kempis kecuali dari hasil yang halal, yang bila akan masuk istana raja niscaya tidak diperkenankan (karena tampilan lahiriahnya), bila meminang wanita bangsawan tidak diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan bila meninggal jenazahnya tidak dihadiri.”
Ketika sahabat bertanya: Tunjukkan kepada kami seorang dari mereka ya Nabiyallah..
Nabi menjawab: “Uwais Al-Qarny ra, seorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, sedang tingginya, selalu menundukkan kepalanya sambil membaca al-Quran, di bumi tidak dikenal, tetapi terkenal di langit. Andaikan dia bersungguh-sungguh minta sesuatu kepada Allah, pasti Diaberi. Di bahu kirinya ada bekas belang sedikit. Hai Umar dan Ali, jika kamu kelak bertemu dengannya, maka mintalah dia membacakan istighfar untuk kalian.”
Sedangkan Syarah Syeikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:
Kalau perbuatan-perbuatan kita tidak didasarkan pada pengabdian yang rendah hati (tawadhu’) kepada Allah, maka perbuatan-perbuatan tersebut tidak akan menunjukkan hasilnya dan tidak terbebas dari kepalsuan serta kemusyrikan (menyekutkan Allah) secara halus.
Bila kita menginginkan reputasi atau penghargaan, maka buah dari perbuatan kita yang seperti itu akan asam dan busuk, karena sifat dunia yang selalu berubah.
Pencari spiritual yang sukses tidak mempedulikan apa yang muncul sebagai hasil akhir perbuatan, karena ia merasakan rahmat-Nya sejak awal penyerahan-dirnya kepada Allah SWT.
______________________________________________________________________
Di tengah-tengah masyarakat yang berpandangan bahwa ketermashuran di masyarakat adalah sebuah cita-cita yang membahagiakan secara duniawi, tentu mengerti dan mengamalkan ajaran para Kekasih Allah di atas menjadi sesuatu yang tidak mudah. Untuk itu kita sebaiknya bersahabat dengan mereka yang sama mempunyai tekad yang kuat untuk meneladani para kekasih Allah, agar kita bisa saling menolong dalam perjuangan menggapai ridho Allah dalam hal ini.
Laa haula wa laa quwwata illa billahi Al-Aliy Al-Adhim
Wallahu a’lam bishshawwab.[]
“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”
Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah:
Tiada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seseorang yang sedang beramal, daripada menginginkan kedudukan dan kemashuran di tengah-tengah masyarakat. Hal ini termasuk dari tipu daya hawa nafsu.
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa berendah-hati maka Allah akan memuliakannya, dan barangsiapa sombong, Allah akan menghinakannya.”
Ibrahim bin Adham ra berkata:
“Tidak benar-benar menuju ke Allah siapa yang beramal untuk kemashuran dirinya.”
Ayyub As-Sakhtiyani ra berkata:
“Demi Allah, tiada seorang hamba yang bersungguh-sungguh ikhlas pada Allah, melainkan ia merasa senang jika tidak mengetahui kedudukannya.”
Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal ra, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya riya’ meski sedikit, termasuk syirik. Dan siapa yang memusuhi seorang waliyullah, berarti telah berperang terhadap Allah. Dan Allah menyayangi hamba-Nya yang bertakwa namun tidak terkenal, yang bila tidak ada tidak dicari, bila ada tidak dipanggil serta tidak dikenal. Hati mereka laksana pelita hidayah(petunjuk), mereka terhindar dari segala kegelapan kesukaran.
Abu Hurairah ra berkata, Ketika kami di majelis Rasulullah saw tiba-tiba beliau saw bersabda:
“Besuk pagi akan ada seorang ahli sorga yang shalat bersama kalian. Abu Hurairah berkata, Aku berharap semoga akulah orang yang ditunjuk oleh Rasulullah itu. Maka pagi-pagi aku shalat di belakang Rasulullah saw dan tetap tinggal di majelis setelah orang-orang pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba hitam berkain compang-camping datang dan berjabat tangan pada Rasulullah saw sambil berkata: Ya Nabiyallah, doakan semoga aku mati syahid. Maka Rasulullah saw berdoa, sementara kami mencium wangi kesturi dari tubuhnya. Kemudian (setelah orang itu pergi) aku (Abu Hurairah ra) bertanya: Apakah orang itu Ya Rasulullah? Jawab Nabi: Ya benar. Ia seorang hamba dari bani fulan. Abu Hurairah bertanya lagi: Mengapa tidak kau beli dan kemudian kau merdekakan ya Nabiyallah? Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, bila Allah hendak menjadikan dia seorang raja di sorga. Hai Abu Hurairah, sesungguhnya di sorga itu ada raja dan orang-orang terkemuka. Dan hamba sahaya ini salah seorang raja dan terkemuka. Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah mengasihi kepada makhluk-Nya yang suci hati, yang menyembunyikan diri dari masyarakatnya, yang bersih, yang rambutnya terurai (tidak tersisir rapi), yang perutnya kempis kecuali dari hasil yang halal, yang bila akan masuk istana raja niscaya tidak diperkenankan (karena tampilan lahiriahnya), bila meminang wanita bangsawan tidak diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan bila meninggal jenazahnya tidak dihadiri.”
Ketika sahabat bertanya: Tunjukkan kepada kami seorang dari mereka ya Nabiyallah..
Nabi menjawab: “Uwais Al-Qarny ra, seorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, sedang tingginya, selalu menundukkan kepalanya sambil membaca al-Quran, di bumi tidak dikenal, tetapi terkenal di langit. Andaikan dia bersungguh-sungguh minta sesuatu kepada Allah, pasti Diaberi. Di bahu kirinya ada bekas belang sedikit. Hai Umar dan Ali, jika kamu kelak bertemu dengannya, maka mintalah dia membacakan istighfar untuk kalian.”
Sedangkan Syarah Syeikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:
Kalau perbuatan-perbuatan kita tidak didasarkan pada pengabdian yang rendah hati (tawadhu’) kepada Allah, maka perbuatan-perbuatan tersebut tidak akan menunjukkan hasilnya dan tidak terbebas dari kepalsuan serta kemusyrikan (menyekutkan Allah) secara halus.
Bila kita menginginkan reputasi atau penghargaan, maka buah dari perbuatan kita yang seperti itu akan asam dan busuk, karena sifat dunia yang selalu berubah.
Pencari spiritual yang sukses tidak mempedulikan apa yang muncul sebagai hasil akhir perbuatan, karena ia merasakan rahmat-Nya sejak awal penyerahan-dirnya kepada Allah SWT.
______________________________________________________________________
Di tengah-tengah masyarakat yang berpandangan bahwa ketermashuran di masyarakat adalah sebuah cita-cita yang membahagiakan secara duniawi, tentu mengerti dan mengamalkan ajaran para Kekasih Allah di atas menjadi sesuatu yang tidak mudah. Untuk itu kita sebaiknya bersahabat dengan mereka yang sama mempunyai tekad yang kuat untuk meneladani para kekasih Allah, agar kita bisa saling menolong dalam perjuangan menggapai ridho Allah dalam hal ini.
Laa haula wa laa quwwata illa billahi Al-Aliy Al-Adhim
Wallahu a’lam bishshawwab.[]
Senin, 29 September 2014
IBUKU....MY MOTHER.....MY MOM.... Super Heroku....
Bunda
Aku adalah seorang putri dari dua bersaudara, dari seroarng ibu yang sangat taat dan sholehah.
Beliau begitu berkorban untuk kami berdua, dalam derita dan keterbatasan yang dimilikinya.
Beliau cantik nan ayu, taat beribadah dan masuk dalam ibu yang sukses, menjadikan kami berdua menjadi pegawai,
dua wanita yang mampu mandiri dan bekerja sendiri tanpa menggantungkan pada laki-laki.
Meski dalam pernikahan pertama beliau gagal, menjadikan kami memiliki seorang bapak tiri yang sangat bertanggung jawab.
itu semua berkat beliau yang meu berkorban untuk kami, dua anak perempuannya, meski bersuamikan 17 tahun diatas beliau.
Beliau rela mengesampingkan kesenangan dan kebahagiaannya demi masa depan kami berdua.
terima kasih ibu,,,, terima kasih bunda ....terima kasih atas semuanya. semoga Engkau senantiasa sehat, tegar, tabah, bahagia lahir bathin , dunia dan akhirat. jika boleh ku meminta pada Allah, Engkaulah yang paling berharga dan paling ku cintai di dunia ini, diatas suami dan anakku, setelah Engkau dan RasulMu... namun karena aku seorang istri dan seorang ibu, maka cinta itu aku tempatkan pada porsinya.
Sehingga tiada berlebihan dikala diriku, akan mengalirkan air mataku dengan sesaknya dada ini, kala ku lantunkan lagu ini.... untukmu ibuku, I Love Mom.... Bundaku Sayang...
BUNDA...
Lirik lagu, Eri Susan..
Bunda engkaulah muara kasih dan sayang
Bunda tak pernah kau berharap budi balasan
Atas apa yang kau lakukan
untuk diriku yang kau sayang
untuk diriku yang kau sayang
Saat diriku dekat dalam sentuhan,
peluk kasihmu nan sayang
peluk kasihmu nan sayang
Saat ku jauh dari jangkauan,
doamu kau sertakan
doamu kau sertakan
Maafkan diriku bunda
Kadang tak sengaja ku membuat
relung hatimu terluka
Kadang tak sengaja ku membuat
relung hatimu terluka
Ku ingin kau tahu bunda
Betapa ku mencintaimu
lebih dari segalanya
Betapa ku mencintaimu
lebih dari segalanya
Ku mohon restu dalam langkahmu,
bahagiaku seiring doamu
bahagiaku seiring doamu
Bunda tak pernah kau berharap budi balasan
Atas apa yang kau lakukan
untuk diriku yang kau sayang
untuk diriku yang kau sayang
Saat diriku dekat dalam sentuhan,
peluk kasihmu nan sayang
peluk kasihmu nan sayang
Saat ku jauh dari jangkauan,
doamu kau sertakan
doamu kau sertakan
Maafkan diriku bunda
Kadang tak sengaja ku membuat
relung hatimu terluka
Kadang tak sengaja ku membuat
relung hatimu terluka
Ku ingin kau tahu bunda
Betapa ku mencintaimu lebih dari segalanya
Betapa ku mencintaimu lebih dari segalanya
Ku mohon restu dalam langkahmu,
bahagiaku seiring doamu
bahagiaku seiring doamu
ku mohon restu dalam langkahmu,
Langganan:
Postingan (Atom)
Kata Indah (MOTIVASI DIRI)
# efek GalFok antara Ghosting dan Kudeta .. 😃 Aku melihat derita kesedihan di bola matamu. Hujan yang tak kunjung reda. Mawar yang layu me...
-
Dwi Sur Blog: Aku adalah seorang putri dari dua bersaudara, dari seroarng ibu yang sangat taat dan sholehah. Beliau begitu berkorban u...


