Hikmah 91
Posted in 10. Tak Terhimpit Tatkala Sempit
“Allah melapangkan keadaanmu agar engkau tidak selalu dalam
kesempitan, dan Allah menyempitkan keadaanmu agar engkau tidak terlarut
dalam kelapangan, serta Dia melepaskanmu dari keduanya agar engkau
terbebas dari sesuatu selain-Nya.”
Syekh Fadhlala ra. memberikan ulasannya sbb:
Diri selalu ingin lapang dan senang. Sementara itu pengalaman-pengalaman
lapang dan sempit terus berlangsung. Salik yang taat mengalami
pengharapan dalam keadaan lapang dan kecemasan dalam keadaan sempit,
serta mencari makna hakiki di balik cara-cara ini.
Orang yang
mengalami ma’rifat (pencerahan batin) melihat Allah SWT sebagai sebab
dari semua situasi dan kondisi. Dia-lah Pengumpul dan Pemilik segala
sesuatu. Orang-orang yang tercerahkan tidak memperdulikan kondisi lapang
atau sempit, karena kondisi ini selalu berubah-ubah, sedangkan batin
mereka tidak.
Sedang Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah sbb:
Allah merubah-ubah kondisi kita dari sedih/sempit dan gembira/lapang,
dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya
kita mengerti bahwa kita tidak bebas dari Hukum Ketentuan-Nya, agar kita
selalu berdiri di atas landasan Laa haula wa laa quwwata ill billahi (tiada daya untuk mengelakkan sesuatu, dan tiada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala)
Firman Allah:
“Agar kamu tidak (terlalu) bersedih terhadap apa yang terlepas
dari tanganmu, dan tidak (terlalu) gembira atas apa yang diberikan
kepadamu..”
Nah Sahabat…
Sekian sejarah keteladanan hidup dari para hamba Allah yang telah
ma’rifat memberikan pelajaran kepada kita, bahwa siapa yang meyakini dan
mentawakalkan urusannya kepada Allah, niscaya Dia Ta’ala akan menjamin
kehidupan kita.
Laa haula wa laa quwwata illa billahi al-‘Aliyy al-‘Adhim. Wallahu a’lam bishawwab.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar