Kamis, 18 Desember 2014

AL-HIKAM .. Hikmah 90-100

Hikmah 91

10. Tak Terhimpit Tatkala Sempit



“Allah melapangkan keadaanmu agar engkau tidak selalu dalam kesempitan, dan Allah menyempitkan keadaanmu agar engkau tidak terlarut dalam kelapangan, serta Dia melepaskanmu dari keduanya agar engkau terbebas dari sesuatu selain-Nya.”  
Syekh Fadhlala ra. memberikan ulasannya sbb:
Diri selalu ingin lapang dan senang. Sementara itu pengalaman-pengalaman lapang dan sempit terus berlangsung. Salik yang taat mengalami pengharapan dalam keadaan lapang dan kecemasan dalam keadaan sempit, serta mencari makna hakiki di balik cara-cara ini.

Orang yang mengalami ma’rifat (pencerahan batin) melihat Allah SWT sebagai sebab dari semua situasi dan kondisi. Dia-lah Pengumpul dan Pemilik segala sesuatu. Orang-orang yang tercerahkan tidak memperdulikan kondisi lapang atau sempit, karena kondisi ini selalu berubah-ubah, sedangkan batin mereka tidak.

Sedang Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah sbb:
Allah merubah-ubah kondisi kita dari sedih/sempit dan gembira/lapang, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya kita mengerti bahwa kita tidak bebas dari Hukum Ketentuan-Nya, agar kita selalu berdiri di atas landasan Laa haula wa laa quwwata ill billahi (tiada daya untuk mengelakkan sesuatu, dan tiada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala)
Firman Allah:
“Agar kamu tidak (terlalu) bersedih terhadap apa yang terlepas dari tanganmu, dan tidak (terlalu) gembira atas apa yang diberikan kepadamu..”
Nah Sahabat…
Sekian sejarah keteladanan hidup dari para hamba Allah yang telah ma’rifat memberikan pelajaran kepada kita, bahwa siapa yang meyakini dan mentawakalkan urusannya kepada Allah, niscaya Dia Ta’ala akan menjamin kehidupan kita.
Laa haula wa laa quwwata illa billahi al-‘Aliyy al-‘Adhim. Wallahu a’lam bishawwab.[]

Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy

 AL-HIKAM

Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy 

Setelah kita mulai belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra. marilah kita melanjutkannya ke hikmah berikutnya.
Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah, Ustadz Salim Bahreisy dan Syaikh Fadhlala Haeri, mari kita awali kajian dan renungan kita.

Kata Indah (MOTIVASI DIRI)

# efek GalFok antara Ghosting dan Kudeta .. 😃 Aku melihat derita kesedihan di bola matamu. Hujan yang tak kunjung reda. Mawar yang layu me...